Skinpress Rss

Rabu, 20 Juli 2011

Kenangan Di Masa Ospek

0

Pasuruan, 20 September 2010
kenangan bersama teman sejawat waktu OSPEK... Gila buaaaangeeeeeeettt....










Makan Duplicate Feses



Sabtu, 16 Juli 2011

Labskill AKBID SAKINAH Pasuruan

0

Waktu Labskill kita kumpul2 dulu di depan kampus.. Belajar, Gosip ..eeeehhhh malah ada yang photo2 ya kayak di foto ini dechhh.. narsiiizzz dulu biar gak puyeng..













cieeehhh,, ada yang baris di tangga.. gak belajar ta ndugh - ndughhh... buat dosen maafkan kami karna kita selalu rame.... hehheheeheeh














para calon ibu bidan profesionalll...... amiiiiiiiiiiiiiiinn

Jumat, 15 Juli 2011

Kumpul rueeeeeeeeeeeeeeeeekkk (Are` Akbid sakinah.com)

0

Selamat terpilihnya Ketua BEM BARU AKBID SAKINAH Pukul - Kraton - Pasuruan Periode 2011/2012. Selamat ya buat Ibu Ketua BEM Yulis...
Semoga bisa membawa AKBID SAKINAH lebih maju.. Dan selamat buat saya sendiri sebagai Ibu Wakil Ketua BEM.... heheheheheheheeheh
Dan teman - Teman Sekalian.....

LEBAAAAAAYYYYYYY.........










Tanggal 16 Juli 2011

Selamat Buat temen2 uda dapat kelas Baru.....
yeeeee.........

seneng nya berpose dengan dosen... contoh yang baiiikkk.... dan komunikasi yang baiiikkk...
good luck dechhh buat semuanya...

Podho@Nuarsiiizzzzz.com














uNTUK sEMUANYA >> Semoga sukses selalu,, dan Ilmu yang kalian dapat termasuk aku semoga bermanfaat dan barokah ... Amiiiiiinnnn

Rabu, 01 Juni 2011

Tanda lahir Pada Bayi

0


Beberapa bayi lahir dengan tanda lahir. Bercak tersebut muncul karena trauma saat lahir berupa pelebaran pembuluh darah, serta darah yang tidak matang dan terpisah dari system peredaran darah.
Beberapa jenis tanda lahir:

1.     Hemangioma
  • Hemangioma adalah sekelompok pembuluh darah yang tidak ikut aktif dalam peredaran darah umum dan ia muncul di permukaan kulit 
  • Muncul sejak lahir atau beberapa minggu setelah lahir 
  • Dialami dari 10 bayi, lebih sering pada bayi perempuan atau bayi berat badan lahir rendah 
  • Membesar seiring usia bayi
  • Berdarah jika tergores atau terbentur 
  • Mengecil dan menghilang dalam waktu 3-10 tahun
  •  Jika hilang kadang-kadang meninggalkan bekas jaringan parut 
  • Jenis: Strawberry Hemangioma (merah, kecil, menonjol), Cavernous Hemangioma (besar, merah kebiruan, matang, dan hilang dalam jangka waktu 5-10 tahun) 
       2.     Mongolian Spots 
  • Bercak ini ada yang berwarna biru, biru hitam, atau abu-abu dengan batas tegas, mirip tanda lebam. 
  • Ukurannya bervariasi dari kecil atau dapat pula sangat besar. 
  • Umumnya terdapat pada sisi punggung bawah, juga paha belakang, kaki, punggung atas dan bahu.
  •  Memudar pada tahun pertama walaupun sering juga menetap hingga dewasa.


         3.     Bercak cafe’ au lait 
  • Bintik berwarna cokelat muda atau tua seperti kopi susu. 
  • Bentuknya tidak teratur, mendatar pada kulit dengan ukuran sekitar 3-5 mm. 
  • Lokasinya bisa terdapat di seluruh tubuh. 
  • Tidak berbahaya dan cenderung menetap
  • Menjadi banyak seiring bertambahan umur 
  • Waspada jika terdapat 5 atau lebih tanda lahir ini dengan diameter lebih dari 5 mm. Segera konsultasikan pada dokter karena kehadirannya bisa menjadi pertanda suatu penyakit genetik.

         4.     Nevus congenital (tahi lalat) 
  • Berupa tahi lalat di kepala atau di bagian badan yang muncul semenjak lahir. 
  • Ukurannya paling kecil sekitar 1 cm hingga lebih dari 20 cm. 
  • Berwarna kecokelatan sampai hitam dan sebagian ada yang berambut.
  • Bila semakin membesar patut diwaspadai sebagai pertanda awal keganasan. Untuk itu segera konsultasikan pada dokter.


5.     Akrosianosis
·         Tanda lahir yang ditemui pada bagian jari tangan dan kaki ini terlihat di permukaan kulit berupa bercak kemerahan.
·         Paling sering terjadi pada bayi perempuan.
·         Ketika bayi menangis atau sedang kedinginan, warna bercak kemerahan tersebut akan berubah menjadi kebiruan dan tampak lebih jelas.
·         Tanda lahir ini tergolong tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya dalam hitungan bulan.

6.     Kutis Marmorata
·         Tampak seperti jaring laba-laba
·         Berwarna kemerahan di permukaan kulit.
·         Umumnya terdapat di bagian kaki.


majalah Ayahbunda (perawatan bayi baru)
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/10/26/mengenal-tanda-lahir-bayi/

Sabtu, 07 Mei 2011

Makanan Ibu Menyusui

0

Makanan Bagi Ibu Menyusui :
Kebutuhan makanan bagi ibu menyusui lebih banyak daripada makanan Ibu hamil.
Kegunaan makanan tersebut adalah :
  • Memulihkan kondisi fisik setelah melahirkan.
  • Meningkatkan Produksi ASI (Air Susu Ibu) yang cukup dan sehat untuk bayi.
  •  
Pengaturan Makanan
  1. Susunan hidangan sehari-hari harus seimbang, yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah serta susu.
  2. Makanan pokok tidak hanya nasi, gunakanlah beraneka bahan makanan pengganti seperti mie, jagung, kentang, ubi, roti dan sebagainya.
  3. Lauk-pauk gunakanlah dari jenis hewani dan jenis nabati, seperti telur, daging, ayam, ikan segar, hati, ikan asin, tempe, tahu, kacang-kacangan dan sebagainya.
  4. Sayuran lebih baik yang berwarna seperti bayam, kangkung, sawi, daun katuk, wortel, buncis dan sebagainya, karena sayuran tersebut dapat membantu merangsang pengeluaran/produksi ASI.
  5. Pilihlah buah-buahan yang berwarna seperti pepaya, jeruk, apel, tomat dan sebagainya yang banyak mengandung vitamin dan mineral.
  6. Perlu minum dalam jumlah lebih banyak + 6 gelas dalam satu hari, akan lebih bermanfaat bila ibu menyusui minum cairan “bergizi” seperti : susu, air kacang-kacangan, sari buah-buahan, air sayuran daun hijau dan sebagainya.
  7. Tidak disarankan minum jamu setelah melahirkan.
  8. Yang terpenting tidak ada pantangan makanan untukm ibu menyusui.

Senin, 25 April 2011

Holiday Slideshow

0

Holiday Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Holiday Slideshow ★ to PASURUAN (near Benteng). Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"

Kamis, 21 April 2011

Praktek APN 58 Langkah

0

 

Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut:
 
  1. Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua. 
  2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set. 
  3. Memakai celemek plastik. 
  4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir. 
  5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam. 
  6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set. 
  7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum. 
  8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah. 
  9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%. 
  10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit). 
  11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran. 
  12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman. 
  13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran. 
  14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit. 
  15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm. 
  16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu 
  17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan 
  18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan. 
  19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu. 
  20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin 
  21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan. 
  22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang. 
  23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas. 
  24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin) 
  25. Melakukan penilaian selintas : Apakah bayi menangi kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan? Apakah bayi bergerak aktif ?  
  26. Mengeringkan tubuh bayi nulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu. 
  27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus. 
  28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik. 
  29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin). 
  30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama. 
  31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut. 
  32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya. 
  33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi. 
  34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva 
  35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat. 
  36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur. 
  37. melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial). 
  38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban. 
  39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras) 
  40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia. 
  41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. 
  42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam. 
  43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam. 
  44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral. 
  45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral. 
  46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam. 
  47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi. 
  48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah. 
  49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan. 
  50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik. 
  51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi. 
  52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai. 
  53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering. 
  54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum. 
  55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%. 
  56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% 
  57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. 
  58. Melengkapi partograf.